Dear bunda Nia
Salam
kenal, Aku Mika, perempuan setengah baya, yang lagi gandrung ama sosmed. Status
menikah dengan 2 orang anak. Kata orang usiaku lagi memasuki puber kedua.
Sebagai ibu rumah tangga kebiasaaan
Bangun pagi, untuk sibuk beres-beres rumah, bangunin si anak-anak untuk persiapan
berangkat sekolah, bikin sarapan dan menyuapi mereka satu persatu…
Suamiku tercinta, masih sibuk
dengan game dan sosmednya sambil tiduran di sofa menunggu anak-anak siap untuk
diantar ke sekolah, sekalian dia pergi kekantor. Begitulah aktivitasku setiap
hari. Setelah meraka semua berangkat aku sibuk dengan hobbyku nonton televisi
sambil praktek in resep-resep kue yang aku dapat dari teman.
Kadang perasaan jenuh sempat hadir
juga, ketika anak-anak pada kesekolah dan suami bekerja. Rumah sepi banget
karena tinggal aku sendirian, mau main ketetangga juga pada kerja, maklum aku
hidup diperumahan pinggiran kota yang tetangga kanan kiri uda mulai lebih asik
dengan duniannya masing-masing ketimbang main ketetangga.
Disatu siang, perasaan galau ini
uda tingkat dewa alias uda diubun2 rasanya
Suami uda seminggu keluar kota,
otomatis aku juga tidak disapanya selama dia pergi,….maklum dia orangnya
pendiam dan tidak romantic sama sekali….
Padahal sebagi istri pingin juga
tuch, diperlakukan sedikit romantic,
Pingin juga ditelpon dan disebrang
sana suara suamiku terucap kata I MISS U
Pingin juga setiap pagi sebelum dia
berangkat kantor dan pulang kantor, dia sempatkan menciumku
Pingin juga setiap mau berangkat
tidur dia memelukku dan bukan hanya saat pingin ML aja dia, membelaiku
Mungkin aku, bisa dibilang jablay
ya…………….
Habis suamiku hemat banget
bicaranya, dia ngobrol klo menurut dia ada hal yang penting untuk dibahas, atau
sekedar say hello ketika dia memberikan uang belanja bulanan, dan itu uda
berlangsung sejak 11 tahun yang lalu dan makin kesini, makin parah.
Sedangkan aku perempuan pendiam,
yang juga takut untuk memulai pembicaraan, aku malu untuk meminta atau
mengatakan keinginanku. Jadi klop sudah dech, kami hidup dalam kelengangan dan
hanya dihidupkan oleh riuhnya suara anak-anak yang sesekali mengusik kami.
Eh, ngelantur dech ceritanya…….
Siang itu ditengah kegalauanku, aku
menyalahkan lapi suamiku yang ada diruang kerjanya. Niatnya mau googling resep
masakan atau handcraft yang bisa aku praktek in diwaktu senggang
Setengah jam telah berlalu……aku
ditenggelamkan dengan asiknya googling resep2 kue, tiba2 ada pesan YM yang
masuk ……..
Automatis aku juga pingin baca…..
“ hai !”
“Yank, lama nich ndak chat. Uda seminggu
kita ndak bertemu. Kangen juga dech!”
“Emang kamu ndak kangen ya? Kapan
kamu balik dari Jakarta ?”
Tulisan itu muncul secara beruntun,
tanpa memberi kesempatan aku untuk berfikir siapa orang disebrang sana yang
kirim message ke suamiku….. aku tertegun sesaat. Tanpa terasa air mata mengalir
membasahi pipiku.
Aku tak mampu membendung kekecewaan
dan perasaan dikhianati yang begitu saja menyeruak dilubuk hatiku…..
Rasanya nyilu tiba-tiba hadir menusuk diuluh hatiku
Apakah semua perempuan akan
merasakan hal yang sama? Ketika mengetahui yang tercinta bermain api dibelakang
mereka
Rasa nyilu itu tak tertahankan, aku
berlari menuju kekotak obat
Kubuka kotak putih itu, dengan
perasaan gusar dan marah
Bukan malah ketemu, malah aku
berhasil menjatuhkan semua isi kotak obat
“pyar” botol minyak kayu putih
terjatuh dan pecah, disusul beberapa obat lain yang berjatuhan
Aku tertegun dan tersungkur sambil
menangis sejadi-jadinya, tidak ada malu karena memang aku sendirian dirumah
Setengah jam telah lewat, aku
teringat kalau aku telah meninggalkan lapi dalam keadaan hidup dan YM yang
aktif.
Messange dilayar itu terus aja
melontarkan rayuan-rayuan dan kemanjaan seorang yang lagi kasmaran.
Dan baru berhenti ketika aku
ketikan kata “Anda Siapa?”
“Aku Mika” istri mas gatot yang
punya YM ini
Dan selanjutnya,… tidak ada satupun
kata yang muncul di layar message itu
Sejak hari itu, uluh hatiku berasa
nyilu….dan seakan tak terobati
Kata-kata yang ingin aku lontarkan
seperti tercekik ditenggorokanku
Tangisku membantu sedikit
meluruhkan beban ini, ……………….namun masih sakit bingit ya
Hari itu senin 3 Januari 2014,
“kring…kring…kring” bunyi telepon
bordering berulang kali mengusik lamunanku
Sudah dua hari aku tidak bisa
tidur, mataku merah dan badanku sedikit lemah, kantung mataku tergambar jelas
dimukakku
Ketika aku angkat telepon, sebuah
suara aku dengar dari seberang sana. “Mika tolong aku dijemput dibandara” aku
tunggu….dan selanjutnya bunyi tut tut tut tut, menandakan telepon disebrang
telah ditutup
Aku raih kunci mobil dan menitipkan
anak-anak pada pembantuku….., dan aku bilang, tolong bobokin anak2 dan jangan
menunggu aku pulang.
Aku sama sekali tidak peduli dengan
penampilanku hari itu, dan hanya satu yang ada dipikiranku, bahwa aku harus
bertemu dan bicara denga suamiku
Sekarang orang yang aku tunggu
sudah disampingku…. Dan aku mencoba membuka percakapan
“Pa !” kita mampir makan diluar ya,
aku tadi belum sempat makan
“Ok” jalan aja, kamu pilih aja
tempatnya dimana! Aq sudah makan tadi dibandara
Tiba diresto yang aku tuju, aq
langsung cari tempat yang sepi dan jauh dari pelanggan lain, suamiku ngikut aja
tanpa komentar apapun. Mungkin dia lelah dan malas bicara
Menu makanan sudah aku pesan.
Sambil sesekali menyeruput minumannya,
suamiku tetap asik dengan gadgetnya……
Aku beranikan untuk membuka
pembicaraan….
“Pa!” aku mau bicara…..
Dia terkesiap dan menatapku “
memang ada apa? (mungkin dia kaget, karena tidak biasanya aku melakukan itu)
mukanya yang dingin tiba-tiba tampak serius menatapku
“Tiga hari lalu aku secara tidak
sengaja membaca YM mu. (nadaku aku buat datar, agar aku tidak emosi dan
kelihatan lemah dihadapannya)
“Perempuan di YM itu merindukanmu
dan menunggu kedatanganmu” (sambil aku tunjukkan print screen dari pesan di YM)
“Sekarang aku Tanya, apa maumu Pa?”
(kata-kata makian yang sudah aku siapkan seakan tercekik dileherku dan tidak
bisa keluar)
Suamiku tertegun dan diam, beberapa
saat dia menghela nafas panjang, (mungkin dia lagi berfikir keras untuk mencari
alas an atau alibi yang membenarkan perselingkuhannya itu)
“Ma!” papa minta maaf (terdengar
sangat berat,keluar dari bibirnya)
Sesaat kemudian, aku tak mampu lagi
menahan tangisku…………..bulir-bulir air mataku deras membasahi pipiku
Dia memindah tempat duduknya
kesampingku, dia peluk aku dengan erat, dan lirih kudengar dia sekali lagi
meminta maaf padaku…….
Hatiku sangat
perihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Kalau diibaratkan teriris dengan
pisau dan lukanya dikasih jeruk nipis mungkin lebih parah dari itu.
Beberapa saat kami terdiam dalam
kepedihanku, kami tidak bicara ataupun bertengkar.
Sekuat tenaga aku lontarkan kata
“kalau kamu memilihnya, aku akan pergi dan kita akan berpisah!” dan kalau kau
memilihku, maka tolong tinggalkan dia dan hapus semua hal yang berhubungan
dengan perempuan itu!”
“Ma…. Aku pasti memilihmu! Dan akan
meninggalkan dia”
“Tapi bisakah aku meminta padamu,
agar kamu lebih perhatian padaku?”
“Bisakah kamu lebih peduli dan
hangat padaku”
“Aku ingin melihatmu merajuk
padaku!”
“Aku ingin kamu memeluk dan
menciumku tanpa aku memintanya!”
“Aku ingin merasakan kamu
merayuku!”
Ya Alloh, hatiku bergetar dan
kutatap suamiku yang duduk bersimpuh dikakiku
Aku tak mampu berkata-kata
Hanya air mata yang semakin deras
dan tak mampu aku bending
Ternyata dia menginginkan hal yang
sama, seperti yang aku inginkan
Ternyata dia juga kesepian
Ternyata dia mengharapkan aku lebih
agresif kepadanya
Hal itu membenarkan ungkapan yang
pernah aku dengar “ bila perlu jadilah pelacur bagi suamimu agar dia tidak
melirik perempuan lain”
Sejak hari itu, aku mulai merubah
kebiasaan ku
Aku sering kali mencuri-curi ciuman
dari suamiku, sesekali merajuk memintanya memelukku dan mungkin aku sengaja
berpenampilan seksi ketika lagi pingin mengajakknya ML. Kadang sengaja aku
selipkan pesan nakal ditasnya, sebelum dia berangkat kerja…….. dan ketika dia
membacanya…dia langsung menelponku
I LOVE U My Dear,
Walaupun luka itu tak pernah
sembuh, tapi aku bersyukur. Karena penghianatan itu mampu membuka mata hati
kami untuk lebih jujur terhadap pasangan kami.
Alloh SWT selalu punya rencana
indah untuk umat yang mencintai Nya.
ORIGINAL BY NIA
